Diposkan pada Puisi

Benar Begitu?

Semoga aku hanya bermimpi

Lamun, binar rawi setia menyapaku

Candra malam tengah meruah

Seorang gadis

Yang tengah dihadang hujan

Semoga ini hanya kabar burung

Kesemogaan yang selalu nona lafalkan

Tentu di setiap kurun

Tatkala teringat, pun menangis

Tapi, konon katanya

Lebih baik kecewa di awal, daripada di akhir

Diposkan pada Tak Berkategori

Aku kira, sudah setegar itu hatiku berdiri
Setelah bersusah susah payahnya mencoba untuk bersatu
Membuat hati yang utuh
Meski tak akan pernah bisa kembali seperti semula
Kecuali engkau yang memintanya
Karena engkau yang sempat mengambil
Tanpa pernah kau berikan kembali

Ternyata aku salah
Sepenuhnya salah besar
Bahwa aku
Masih sama
Seperti pada sebelum sebelumnya
Bukan karena aku yang lemah
Tapi kenyataan pada ekspektasi yang memaksaku
Untuk terus melanjutkan harapan itu
Walau sakit kian mendera

Yk, 15 April 2021
-BAR-

Diposkan pada Tak Berkategori

Puisiku

Karena secara tertulis ia hidup bersamanya, tiada sekadar penyesak di dada, pelahir ribuan rasa takut.
Bukan harap menjadi doa, tapi semoga meluruhkan cemas yang menanti dipanggil pada tiap waktunya.
Hanya terkenang meski abadi dalam coretan, sebagai tameng pengingat sekaligus kebangkitan diri.

Yk, 14 Mar 2020
-BAR-

Diposkan pada Tak Berkategori

Malamku, aku pernah lelah merindukannya, sedetik lengah aku menanti bagaimana sakitnya kau melepas rindu dalam mengenang tiap perjalananku berdiri hingga titik ini

Tapi, malam-malamku tiada pernah lelah meski harus berebut dengan hujan dan bulan yang tidak sekalipun mengisi kolom absen, tentang sebuah hikmah di balik sesuatu kekuatan yang tersimpan dari beribu ketakutan

Mungkin esok atau senja bisa membantuku menjawab, sebelum malam benar benar pergi, untuk selamanya.

Yk, 11 Maret 2021
-BAR-

Diposkan pada Puisi

Sebelum

Ku kira, halal jika kita menjadikan kata “sebelum” sebagai senjata

Memang waktu yang merubah semua kan?
Atau justru kita sendiri yang memihak pada perubahan itu
Bagaimana jika kawan kita libatkan dalam ini

Nahas memang.
Pembicaraan tentang waktu tidak akan lepas dari cerita hidup

Salah satunya, ketika sebelum aku berkenalan denganmu.

Yk, 19 Juli 2020
-BAR-

Diposkan pada Puisi

Aku

Ketika aku mendengar bisikanku
Sang aku yang berkata:

Aku tarik lagi waktu ini
Ke beberapa lamanya
Ketika berdiri di ujung tanduk dari sebuah waktu
Atau mungkin awal yang sebenarnya hanya perlu bersabar?

Saat itu, pertama kalinya kau melahirkanku di dunia ini
Aku terdengar oleh satu dua atau bahkan menyebar dari tiap-tiap pendengaran

Aku kira, kehadiranku dinantikan
Ternyata aku salah, justru kehadiranku lah yang menjadi mendung bagi hati seorang gadis
Aku tak sempat menemani gadis itu -sebagai permintaan maafku- untuk berjalan di bawah rintihan hujan
Belum genap sehari kau kembali memasukkanku lagi

Aku terkurung
Pilihanku kini hanya tidak ingin terlahir, daripada harus kau kurung
Mungkin sama seperti pinta gadis itu?

Entahlah, aku tak tahu berapa lama gadis itu terseok bersama banjir yang semakin deras
-firasatku mengatakan lama baginya-
Bagaimana pun juga, aku merasa bersalah, meski aku tak pernah mau untuk menjadi salah
Dosa tidak seharusnya pernah berpihak kepadaku

Kini, dalam belenggu, ku hanya bisa berdoa
Semoga yang semoga tersemogakan
Kau menyatakan ucapan terakhirmu, sebelum kau tinggalkan aku
Di bawah tanah katamu mengibaratkan

Sungguh gelap, aku….

Yk,18 Juli 2020
-BAR-

Diposkan pada Tak Berkategori

Aku Rindu

Yah, bagaimana bisa rindu hadir untuk dibenci?

Ikhlas dan sabar selalu ada, begitu sama ketika mereka menjadi sesuatu yang wajib diingat, tapi justru menyakitkan.

Sedangkan butuh lebih dominan.
Tak bisa berteman, damai apalagi.
🙂

YK, 24 Juni 2020
-BAR-

Diposkan pada Tak Berkategori

Iri

Terkadang aku iri
Ya, aku iri dengan mereka.

Sekali ini, bukan iriku terhadap mereka
Perempuan sholehah yang mampu istiqomah, ada satu iri yang berhasil menyelinap ketika aku mencoba menepis sesuatu
Sesuatu yang,,, seharusnya,,,,
ah sudahlah, tak perlu didefinisikan apa sesuatu itu
Mungkin kau akan memahaminya sendiri -suatu saat nanti-

Hampir setahun aku mencoba ikhlas
Sudah memaafkan segala masa lalu pun harapan, tapi…. 

Perihal mengembalikan kertas menjadi halus lagi, setelah terlipat, ternyata tidak mudah
Kecewa, takut, khawatir menjadi teman selama itu pula

Ya begitulah,
sejujurnya, aku belum -atau entah tidak- berani membuka hati untuk yang baru
Pikirku selalu merasa semua akan berjalan seperti dulu
Kenal hingga akhirnya sakit
-sakit sendiri-

Aku tidak pernah berdoa lagi untuk rasa yang telah lalu, tidak pernah pula berharap untuk rasa yang akan datang

Tapi kenapa?
Kenapa?
Kenapa ketakutan itu selalu hadir di saat aku memcoba membuka hati untuk yang baru datang?
Belum genap ketika ada hati yang menyatakan rasa, mundur adalah pilihan yang tepat bagiku
Rasa rasanya percuma memulai perasaan, toh akhirnya akan berakhir

Aku tak pernah bermaksud menyatiki hati baru yang datang, tetapi aku juga tak bisa bersembunyi dari rasa takutku.

Aku iri, dengan perempuan-perempuan yang berhasil menepis rasa takutnya
Seakan-akan tidak ada yang pernah terjadi kepadanya
Mereka berhasil membuka dan menerima hati baru yang datang
Mereka berhasil menata dan mengisahkan cerita kehidupan baru bersama,
sedangkan aku, masih membentengi diriku.

Bukan maksudku aku belum mengikhlaskan kisahku dengannya, tetapi cerita kisah kami lah yang pada akhirnya menjadikanku takut untuk kembali jatuh hati pada yang baru.

Mungkin, rasa takutku ini adalah cara yang Tuhan beri supaya aku bisa selalu menjaga diri dan hatiku
Karena, cinta yang sebenarnya adalah ketika dua insan sudah terikat oleh janji suci, bernama ijab qobul

Bukankah di setiap kejadian ada hikmahnya?

âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–
Semoga, aku senantiasa diberi kekuatan untuk menemukan hikmah di setiap kepingan-kepingan jalan hidupku.

Yk, 31 Mei 2020
-BAR-

Diposkan pada Puisi

Kenapa ya,
Selalu terjadi pada malam hingga menjelang subuh
Akhir-akhir ini

Rasanya berattt sangat
Semakin dewasa,semakin sendiri
Sendiri
Iya sendiri
Aku saja
Iya aku saja
Padahal, kata mereka, aku tidak pernah sendiri

Heran sih
Sudah masuk Januari 2020, tetapi masih tetap hujan
Yah meski kata mereka,

.
.
.
Hujan itu sebuah kewajaran suatu respon.

Yk, 27 Januari 2020
-BAR- (Lagi-lagi terbangun)

Diposkan pada Kisah Klasik

Flutter de Shy

Prolog.

Panggil saja dia, Luy.

Pecinta pink, penggila es krim, dan penikmat hujan. Dua puluh tahun hidup dalam kebencian yang melingkar, mengikatnya.

Selalu takut untuk merasakan kehilangan yang kesekian kalinya, meski sudah kehilangan dirinya sejak kelahirannya.

…..

-Diary, 17 Januari 2020-